Enam Pemikiran untuk Bangsa dalam Membangun Indonesia menuju ‘Developed Country’


 

 

Topik #1: Lingkungan Hidup

Tema: Prestasi Negeri dalam Mengelola Lingkungkan Hidup

Panelis: Yoga T. Malik, Siti Jubaedah dan Lusy Nur Aisyah (Himpunan Mahasiswa Kimia FMIPA Unpad)

Apa sih prestasi Indonesia kali? Ya, untuk diketahui bersama bahwa hingga tahun 2015 ini, Indonesia menempati urutan nomor dua setelah China dalam 20 besar negara penyumbang sampah plastik ke laut. Plastik merupakan bahan yang sulit terurai. Selain itu, Indeks Pembangungan Manusia (IPM) di Indonesia mencapai 73,81% hingga tahun 2013. IPM ini menyumbang penyebab kekurangan ketersedian lahan hijau di kota-kota besar. Nah, yang gak kalah penting dan harus kita diperhatikan adalah jumlah emisi karbon dari kendaraan bermotor dan alat elektronik yang terus meningkat seiring dengan peningkatan jumlah kendaraan bermotor dan produksi serta impor barang elektronik. Untuk e-waste sendiri Indonesia bahkan mampu memproduksinya hingga 12 miliyar kg/tahun untuk televisi dan 36 miliyar kg/tahun untuk komputer. Terus gimana solusinya? Di Indonesia sendiri belum ada peraturan yang mengatur jumlah penggunaan bahan elektronik, kendaraan bermotor maupun penggunaan plastik dalam industri rumah tangga. Salah satu cara yang bisa dilakukan adalah dengan mengurangi jumlah produksi plat nomor kendaraan dan pembatasan kepemilikan barang elektronik. Tapi di balik semua solusi tersebut, ada satu hal yang paling penting. Masalah lingkungan sebenarnya adalah masalah yang sederhana. Solusi terbesar adalah dengan kesadaran semua pihak terhadap lingkungan. Dengan kesadaran, semua permasalah lingkungan dapat mudah diatasi.


 

Topik #2: Sumber Daya Manusia

Tema: Pengangguran Lulusan Sarjana di Indonesia

Panelis: Andre C. K, Fiqry R dan M. Wildan Widarta (Himpunan Mahasiswa Statistika FMIPA Unpad)

Seperti apakah tingkat penangguran lulusan sarjana di Indonesia? Benarkah tingkat pengangguran di Indonesia tinggi? Kata ‘tinggi’ tersebut perlu dibuktikan dengan cara membandingkan angka pengangguran lulusan sarjana dengan pengangguran-pengagguran di tingkat pendidikan lainnya.

Berdasarkan data Survey Angkatan Kerja (Sakernas) tersebut, tingkat pengangguran lulusan sarjana di Indonesia ‘tidak tinggi bila dibandingkan dengan kategori lulusan lainnya’. Namun angka tersebut termasuk tinggi karena sebenarnya standar angka pengangguran dalam perekonomian adalah 4-5% untuk masing-masing kategori lulusan. Banyak hal yang perlu dilakukan untuk mengurangi tingkat pengangguran ini salah satunya adalah evaluasi kurikulum dalam pendidikan calon sarjana tersebut. Pendidikan di tingkat perguruan tinggi harus lebih menegdepankan softskill mengenai cara-cara berkomunikasi yang baik serta penyesuaian keterampilan yang akan diberikan dengan keterampilan yang memang dibutuhkan di dunia kerja.


 

 

Tema: Nasib Para Peneliti di Indonesia

Panelis: Taufiqurohman (Mipa Science Club)

Peneliti? Siapa itu peneliti? Nah tentunya ketika kita mendengar kata ‘peneliti’ pasti yang terlintas dalam pikiran anda adalah seseorang yang bekerja di laboratorium atau yang langsung terjun ke lapangan untuk meneliti sesuatu atau kondisi tempat tertentu . Lalu, apasih yang dihasilkan dari penelitian itu? Dan apa ya gunanya untuk kemajuan bangsa ini? Nah jadi begini kawan, setelah melakukan penelitian biasanya para peneliti mempublikasikan hasil penelitiannya melalui publikasi ilmiah, nah lalu apa saja sih jenis jenis dari publikasi ilmiah itu?? Publikasi ilmiah itu banyak jenisnya, diantaranya: Journal Article,Working paper ,Book,Book Chapter,Conference Proceeding,Dissertation/Thesis. Tentu saja semua penelitian yang dilakukan para peneliti ini sebenarnya memiliki peran penting dalam memajukan bangsa ini, melalui penelitian ini kita bisa menyelesaikan masalah yang ada dinegara ini, seperti masalah social,ekonomi,dan kekrisisan energy. Di luar negeri suatu kegiatan penelitian bukan lagi sesuatu hal yang langka bahkan menjadi suatu hal yang membanggakan, dan tidak jarang banyak Negara yang maju karena penelitiannya yang maju seperti Negara Jepang,Amerika, keduanya adalah Negara maju yang memiliki kemajuan dibidang industry dan pertahanan negaranya, nah dalam hal ini dibutuhkan sekali peran para peneliti untuk menciptakan sesuatu hal yang baru dan memiliki nilai jual yang tinggi. Nah lalu bagaimana dengan nasib peneliti di Indonesia??………. Lalu berapakah gaji para peneliti di Indonesia??.. mari kita lihat data berikut.

 

Nah lalu sudah berapa banyak publikasi ilmiah yang dihasilkan di Indonesia? Check it out.. nah berikut adalah jumlah journal yang telah di buat di Indonesia dibandingkan dengan Negara tetangga dalam kurun waktu 50 tahun terakhir..

 

Untuk membangun Indonesia menjadi Negara yang lebih maju tentunya tidaklah mudah, namun dalam menuju Indonesia maju ini tentunya dibutuhkan suatu dukungan yang seimbang antar masyarakatnya khususnya antara pemerintah dan para peneliti di Indonesia, dan dalam hal ini peran mahasiwa sangat dibutuhkan, oleh karena itu mari kita mengabdi untuk kemajuan negeri ini


 

 

Tema: Revolusi Mental Bangsa

Panelis: Faisal Putra Syahrani (BEM Kema FMIPA Unpad)

Ketika ada seseorang yang bertanya, “sebenarnya apasih solusi yang harus dilakukan untuk menuju indonesia yang lebih maju?” dan tak jarang orang menjawabnya dengan kata “Revolusi Mental” Bahkan kedua kata ini dijadikan Visi dari presiden kita yaitu Bapak Jokowi sewaktu masa kampanye pemilihan presiden. Sebenarnya apasih maksud dari revolusi mental itu? “Revolusi mental” itu terdiri dari kata revolusi dan mental yang mana keduanya memiliki makna sebagai berikut dalam KBBI..

re·vo·lu·si /révolusi/ n 1 perubahan ketatanegaraan (pemerintahan atau keadaan sosial) yg dilakukan dng kekerasan (spt dng perlawanan bersenjata); 2 perubahan yg cukup mendasar dl suatu bidang: dialah pelopor — dl bidang arsitektur bangunan bertingkat; 3 peredaran bumi dan planet-planet lain dl mengelilingi matahari;

men·tal /méntal/ 1 a bersangkutan dng batin dan watak manusia, yg bukan bersifat badan atau tenaga: bukan hanya pembangunan fisik yg diperhatikan, melainkan juga pembangunan –; 2 n batin dan watak;

— baja kemauan keras dan tegar

 

Nah lalu apa kaitanya dengan kemajuan Negara ini? Jadi begini, maksud dari revolusi mental itu sendiri adalah perubahan mental bangsa yang cepat tentunya perubahan mental disini adalah perubahan menuju mental yang lebih baik seperti berani membela kebenaran dan sebagainya. Lalu bagaimana caranya untuk kita tahu kondisi mental bangsa sekarang ini? Sebenarnya banyak hal yang dapat dijadikan suatu parameter kondisi mental bangsa ini diantaranya ‘tinggi-rendahnya tingkat kriminalitas di indonesia’,’kondisi hukum di indonesia’. Kedua hal itu adalah salah satu contoh yang dapat dijadikan parameter namun masih banyak lagi contoh yang lainnya. Lalu bagaimana langkah untuk mewujudkan revolusi mental? Tentunya berawal dari diri sendiri terlebih dahulu kita harus mulai membiasakan diri untuk membangun mental positif seperti memiliki budi pekerti yang baik.


 

 

 

Topik #3: Energi

Tema: Ketersediaan sumber energi di masa depan

Panelis: Fizar (Pedra FMIPA Unpad)

Mau jadi negara maju tapi kekurangan energi? Mustahil banget. Herannya, Indonesia sebagai salah satu dari beberapa negara dengan sumber minyak terbesar di dunia kok masih mengimpor minyak dari luar ya? Padahal dari tahun ke tahun kebutuhan energi di Indonesia semakin meningkat tapi sayangnya ketersediaan minyak makin berkurang. Terus gimana dong? Emang sejauh ini gimana sih gerak pemerintah dalam menangani masalah ini? Ternyata selama ini kita terjebak dalam permasalahan klasik, yaitu dana. Hmm… emangnya dengan dana yang ada selama ini udah dioptimalkan dengan baik ya dalam mengeksploitasi sumber minyak itu sendiri? Pemerintah yang (baru) sadar akhirnya sudah mulai mencari solusi ini dengan cara mengalihkan sumber energi minyak ke berbagai sumber energi alternatif. Selain itu, berbagai langkah yang harus kita lakukan adalah dengan mengkaji ulang sumber-sumber minyak lain yang ada, menghentikan monopoli pasar minyak oleh perusahaan X, mennganalisis semua masalah perminyakan di Indonesia, dan yang paling penting harus hemat energi agar energi digunakan secara optimal.


 

 

Topik #4: Ketahanan Pangan

Tema: Indonesia sebagai negara agraris pengimpor beras

Panelis: Ramdan N, Via Sabila dan Zahidan N (Himpunan Mahasiswa Biologi FMIPA Unpad)

Lucu yah? Kok bisa kita jadi negara pengimpor beras sedangkan padi di negara kita (katanya) berlimpah. Sementara itu pengaruh negatif impor beras terhadap tingginya harga beras dalam negeri, disebabkan oleh kebijakan pemerintah untuk mengimpor di saat panen raya sedangkan permintaan pasar tidak berubah ditambah dengan kurangnya informasi harga beras di tingkat petani. Pengarub negatif impor beras terhadap nilai tukar petani disebabkan oleh jumlah absolut beras yang masuk melebihi total produksi. Kebijakan pemerintah tentang impor beras dan berflutuasinya harga-harga komuditi pertanian atau meningkatnya harga-harga kebutuhan pokok lainnya tidak diimbangi dengan peningkatan harga gabah di tingkat petani. Pemerintah seharusnya dapat meminimalisasi impor beras dengan cara mengoptimalkan pertanian dalam negeri.

Selama ini pertanian di Indonesia belum dioptimalkan karena kendala rusaknya infrastruktur lahan pertanian akibat pupuk anorganik yang sering digunakan oleh petani sejak penerapan sistem “Revolusi Hijau” pada jaman Soeharto. Pengoptimalan tersebut dapat dilakukan dengan cara revitalisasi struktur tanah pertanian dengan bantuan mikroorganisme, penggunaan pupuk organik serta penggunaan sistem “blokade alamiah” tanaman dari serangga. Selain itu, kita sebagai sebagai masyarakat Indonesia harus mulai menghilangkan frame “tidak makan nasi sama dengan tidak makan” karena banyak sumber karbohidrat lain yang dapat memenuhi kebutuhan kalori harian sehingga sumber beras dalam negeri sudah cukup untuk memenuhi seluruh kebutuhan masyarakat tanpa perlu mengimpor dari luar.