Kastrat Breaking News: Menyingkap Kabut Tebal Kasus Angeline

image

Sudah menjadi apakah dunia yang kita tinggali saat ini? Baru saja tersiar berita yang membuat geger Indonesia bahwa Angeline, bocah perempuan asal Bali berusia delapan tahun yang telah hilang selama hampir sebulan lamanya, terhitung sejak Mei, akhirnya ditemukan pada Rabu, 10 Juni 2015.
Tragisnya, Angeline ditemukan dalam keadaan tak bernyawa dan terkubur di pelataran rumahnya sendiri! Bahkan menurut laporan tim forensik yang melakukan autopsi terhadap jasad gadis kecil ini, ada dugaan bahwa sebelum menemui ajalnya, korban sempat mendapatkan perlakuan kekerasan seksual. Penyebab kematian korban sendiri menurut laporan forensik adalah pendarahan pada otak yang disebabkan oleh pembenturan kepala ke lantai, yang mana diakui langsung oleh pelaku Agus, si pembantu rumah tangga di kediaman korban.

Semasa hidupnya, Angeline tidaklah tinggal bersama keluarga kandungnya. Ia tinggal bersama Margareth (55 tahun), ibu angkatnya. Saat usia Angeline masih berusia tiga hari, ibu kandungnya, Hamdani, serta keluarga, tidak menyanggupi untuk mengurus Angeline dikarenakan permasalahan ekonomi keluarga, yang mana akhirnya Angeline dipindah tangan ke Margareth. Menurut pengakuan warga dan orang-orang terdekat, Angeline tidaklah diperlakukan dengan layak di keluarga angkatnya. Menimbang usianya yang masih belia, ia justru sering diperlakukan tidak seperti anak-anak biasanya. Bahkan menurut pengakuan guru dan teman sejawatnya, Angeline berjalan kaki ke sekolahnya yang berjarak jauh dari rumah. Seringkali ia ke sekolah dalam keadaan bau, seperti tidak terawat, dan bahkan sampai pernah harus meminta makan ke gurunya.

Tidak sampai disitu, bahkan saat penyelidikan dalam usaha polisi mencari keberadaan Angeline, keluarga angkatnya sempat menghalang-halangi penyelidikan di dalam rumah. Bahkan kedatangan Menteri Pemberdayaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi, Yuddy Chrisnandi, serta Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Yohana Yembise, sempat pula ditolak. Saat kamar Angeline diperiksa, tereksposlah bahwa selama ini Angeline tidak diberi fasilitas yang layak, dimana kamarnya sangatlah berantakan dan berbau kotoran hewan. Bahkan tersebar berita juga bahwa Angeline tadinya akan mendapatkan hak waris berjumlah miliaran dari ayah angkatnya. Cerita-cerita ini sungguh berbau intrik a la opera sabun atau sinema elektronik di Indonesia. Agus yang mengaku telah melecehkan serta membunuh korban pun bisa jadi hanyalah seorang con-man; palsu.

Pertanyaan lainnya adalah, dimanakah peran pemerintah dalam usahanya mengusut tuntas kasus serupa? Menurut Undang-Undang No.35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak, pelaku dapat mendapatkan jeratan hukuman penjara selama rentang waktu 3-15 tahun. Namun yang jadi permasalahan adalah apakah hukuman-hukuman yang telah dipraktekkan di kasus serupa di masa lalu telah sampai pada fase dimana para pelaku jera? Apakah konstitusi sudah berjalan maksimal? Perlukah ada revisi mengenai hukuman tersebut karena sekiranya hukuman tersebut dirasa belum berat untuk orang-orang biadab di luar sana? Perlu ada aturan yang lebih komprehensif dan visioner yang fungsinya tidak hanya untuk menghukum, tapi juga untuk menghentikan kasus-kasus serupa lainnya.

Terlepas dari semua itu, substansi tulisan ini bukanlah untuk membuat asumsi spekulatif maupun kesimpulan dari pandangan tak berdasar. Kita hanya dituntut untuk berpikir cerdas dan kritis akan permasalahan dan fakta yang ada. Dapatkah dikatakan, dengan cerita-cerita diatas, bahwa ada intrik dan unsur kepentingan di balik kasus Angeline ini? Kita tidak dapat menjawabnya, karena sebenarnya fakta yang ada pun masih berkabut; samar-samar dan penuh misteri. Namun satu yang kita ketahui adalah bahwasannya dunia ini memanglah bukan tempat yang aman lagi bagi gadis kecil tak berdosa seperti Angeline. Nilai-nilai kemanusiaan sudah nyaris sirna. Dunia ini sudah terlalu gelap dengan segala kepentingan-kepentingan individualistik yang ada. Namun, kematian tragis Angeline bukanlah sebuah akhir baginya. Tragedi ini akan menjadi memori yang terus hidup dalam pikiran kita. Semoga tragedi Angeline ini dapat menjadi tonggak perubahan dalam penanganan kasus perlindungan anak di Indonesia.

Rest In Peace, Angeline