Rilis Kajian : Minat Baca Indonesia

 

Buku telah menjadi instrumen penting dalam peradaban manusia. Dari peradaban Firaun kuno, sampai abad ke-21 saat ini, buku selalu menjadi momok atas kemajuan peradaban. Tak pelik, hal ini mengindikasikan makna bahwa buku tak akan lekang oleh waktu, dan buku akan selalu memiliki peranan penting terhadap peradaban, tak terkecuali di Indonesia. “Aku rela dipenjara asalkan bersama buku, karena dengan buku aku bebas”, begitu kata-kata yang pernah terucap dari lisan salah seorang bapak pendiri bangsa, Bung Hatta.

Minat baca menjadi hal yang fundamental apabila berbicara mengenai buku. Ketiadaan minat baca maka akan menjadikan buku sebagai setumpukan kertas nirmakna saja, fungsinya akan tidak berjalan dengan semestinya. Minat baca adalah kecenderungan hati yang tinggi terhadap memahami isi dari apa yang tertulis, baik dilakukan dengan pelafalan secara lisan maupun hanya di dalam hati.1 Minat baca Indonesia, berdasarkan Educational Score Performance di Country Rankings pada 2014 lalu, menduduki peringkat ke-60 dari 64 negara.2

Fakta mengenaskan tersebut memperlihatkan bahwa, soal minat membaca orang Indonesia tergolong malas membaca apabila disandingkan dengan Negara lainnya. Lebih jauh lagi, berdasarkan hasil temuan Nielsen mengenai konsumsi media pada 2014 lalu, secara keseluruhan konsumsi media di kota-kota baik Jawa maupun Luar Jawa menunjukkan bahwa televisi masih menjadi medium utama yang dikonsumsi masyarakat Indonesia.3 Berdasarkan hasil sensus Badan Pusat Statistik Republik Indonesia (BPS RI), persentase menonton televisi di Indonesia mencapai angka 91.55%, diikuti oleh mendengarkan radio sebesar 18.55%, dan membaca sebesar 13.10%.4,5,6

Ada tiga faktor yang mempengaruhi minat baca, yaitu faktor internal, eksternal, dan lingkungan. Faktor internal terdiri dari bakat, jenis kelamin, tingkat pendidikan, kesehatan, keadaan jiwa, dan kebiasaan, faktor eksternal terdiri dari buku/bahan bacaan serta kebutuhan, sedangkan faktor lingkungan terdiri dari lingkungan keluarga dan lingkungan sekolah.7

Ditinjau dari segi pendidikan, berdasarkan data yang didapat dari BPS RI pada akhir tahun 2015 sekitar 67.75% masyarakat Indonesia maksimal lulusan SMP.8 Dari data ini, dapat dikatakan bahwa tingkat pendidikan orang Indonesia masih rendah. Mengingat pendidikan merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi minat baca, rendahnya tingkat pendidikan orang Indonesia patut diperhatikan dan dibenahi.

Ditinjau dari fasilitas, dari 134,718 buah perpustakaan yang terdata di seluruh Indonesia, hanya 32% yang dapat dikategorikan berkondisi baik. Sisanya sebanyak 68% dikategorikan rusak dengan rincian 55% rusak ringan, 5% rusak sedang, dan 8% rusak berat.9 Dengan lebih mendominasinya perpustakaan dengan kondisi rusak, dapat dikatakan bahwa orang-orang tidak akan merasa nyaman berlama-lama di perpustakaan untuk membaca.

BEM Kema FMIPA Unpad telah melakukan kajian bersama Kema FMIPA Unpad pada Senin, 22 Mei 2017 mengenai Minat Baca Indonesia. Faktor yang dirasa krusial dalam rendahnya minat baca Indonesia adalah fasilitas, aksesibilitas, dan lingkungan.

Secara fasilitas, terlihat dari data bahwa perpustakaan umum di Indonesia relatif masih buruk kualitasnya. Kembali lagi kepada data perpustakaan yang telah didapat sebelumnya bahwa persentase jumlah perpustakaan yang berada dalam kondisi rusak di Indonesia adalah 68%, lebih dari setengah jumlah perpustakaan yang terdata di seluruh Indonesia.9

Secara aksesibilitas, terlihat dari perpustakaan terbuka yang belum banyak bertebaran di Indonesia serta jumlah literatur, baik buku fisik maupun e-book, yang masih kurang. Apabila kita ambil studi kasus Jatinangor, dengan keberadaan empat perguruan tinggi di dalamnya dan disebut sebagai kawasan pendidikan, tidak ada perpustakaan yang terbuka untuk masyarakat luas secara umum. Selain itu, perpustakaan di perguruan tinggi pun, khususnya di FMIPA Unpad, tidak menyediakan buku yang cukup beragam. Sebenarnya banyak buku bagus di perpustakaan tersebut, hanya saja terdapat masalah pada penataan buku atau indexing sehingga agak sulit dicari tanpa mesin pencari. Sebagai tambahan pula, seringkali terdapat buku-buku bagus dengan kuantitas yang tidak sesuai dengan mahasiswa peminjam.

Secara lingkungan, faktor paling krusialnya adalah lingkungan keluarga. Dapat dilihat dari grafik angka melek huruf Indonesia dimana rentang angka melek huruf perempuan adalah di antara 89-94% sementara laki-laki 95-98%.10 Dengan angka melek huruf perempuan yang relatif lebih rendah daripada laki-laki, secara tidak langsung dapat pula dikatakan bahwa minat baca perempuan tidak setinggi laki-laki. Padahal, perempuan yang merupakan calon ibu seharusnya mengajarkan budaya membaca kepada anaknya. Dengan tidak adanya minat baca pada perempuan itu sendiri, maka tidak akan muncul minat membaca pada diri sang anak.

Berdasarkan hasil survey terhadap 107 responden dari Kema FMIPA Unpad mengenai minat baca yang dilaksanakan pada tanggal 9-20 Mei 2017, didapatkan hasil bahwa indeks kepuasan warga Kema FMIPA Unpad terhadap perpustakaan di lingkungan FMIPA Unpad adalah sebesar 65.26%, sedangkan minat baca Kema FMIPA Unpad adalah sebesar 69.63%. Kemudian dianalisis pula pola pengaruh serta hubungan antara kepuasaan warga Kema FMIPA Unpad terhadap perpustakaan di lingkungan FMIPA Unpad dengan minat membacanya. Hasilnya, setiap terjadi kenaikan satu indeks satuan kepuasan terhadap perpustakaan, maka bertambah 0.33 indeks satuan minat membaca warga Kema FMIPA Unpad. Secara hubungan, kepuasaan terhadap perpustakaan hanya mempengaruhi minat baca sebesar 3% saja. 97% sisanya dipengaruhi oleh faktor lain yang tidak diteliti di dalam survey ini.

Dari hasil kajian ini, diharapkan agar pemerintah menyediakan lebih banyak perpustakaan untuk umum serta mengelola perpustakaan baik yang telah ada maupun akan dibangun dengan baik. Bukan hanya pemerintah, tetapi perguruan tinggi yang menjunjung Tri Dharma Perguruan Tinggi juga harus melakukannya. Selain itu, untuk ikut meningkatkan angka minat baca Indonesia, sebagai individu pun kita harus memperbaiki minat baca diri sendiri terlebih dahulu.

 

 

Departemen Kajian Strategis
BEM Kema FMIPA Unpad
Kabinet Transformasi 2017